0 di keranjang

Tidak ada produk di keranjang.

Produk Organik Alami Natural Nusantara

Budidaya Ikan Koi

Budidaya Ikan Koi – Ikan koi (Cyprinus Caprio) merupakan jenis ikan mas yang dihaislkan dari perkawinan silang dari berbagai macam ikan mas. Di Indonesia, ikan koi telah populer sejak tahun 1960. Pada waktu itu Presiden Soekarno diberi hadiah berbagai jenis ikan koi oleh pemimpin Negara Cina. Lalu Presiden Soekarno memberikan ikan koi tersebut kepada pada pembudidaya ikan di daerah Batu, Jawa Timur untuk dikembangbiakkan. Benih tersebut yang menjadi cikal bakal pengembangan ikan koi lokal.

Perkembangan ikan koi lokal semakin berkembang, terutama di daerah Blitar, Jawa Timur. Ikan koi lokal terus mengalamai peningkatan kualitas dari waktu ke waktu. Pangsa pasar semakin terbuka bagi para pembudidaya ikan koi karena semakin mahalnya ikan koi impor. Ikan koi lokal mempunyai keunggulan untuk bersaing dari segi harga.

Budidaya ikan koi tegolong mudah dilakukan. Langkah-langkah budidayanya hampir sama dengan budidaya ikan mas. Hanya saja yang menjadi faktor krusial adalah penyediaan bibit yang berkualitas.

 

Indukan Ikan Koi Untuk Budidaya

Induk ikan koi yang bagus, secara genetis akan menghasilkan keturunan yang bagus. Indukan ikan koi yang memiliki kualitas unggul biasanya dimiliki oleh para penangkar. Berikut ini adalah ciri-ciri induk ikan koi yang berkualitas bagus :

  1. Ikan koi telah berumur lebih dari 2 tahun
  2. Mempunyai jenis yang sama atau paling tidak mendekati, contohnya ikan koi jenis kohaku dengan kohaku
  3. Bentuk tubuh ideal, dari atas terlihat seperti torpedo
  4. Gaya berenang seimbang dan tenang
  5. Memiliki warna cemerlang dan kontras
  6. Sehat, ditandai dengan gerakannya yang gesit dan tidak banyak diam di dasar kolam
  7. Baik indukan jantan atau betina telah matang gonad

 

Pemeliharaan Indukan Ikan Koi

Calon indukan ikan koi sebaiknya dipelihara pada kolam khusus. Kolam dapat berbentuk persegi panjang dengan kedalaman 150 cm (lebih dalam lebih baik). Kolam dengan ukuran 4×5 m dapat diisi maksimal 20 ekor induk betina dan 40 ekor induk jantan. Hal ini dikarenakan biasanya induk betina berukuran lebih besar daripada induk jantan.

Induk jantan dan betina dipelihara pada kolam yang berbeda, supaya saat proses pemijahan kedua indukan tidak mengalami pemberokan lagi. Pemeliharaan kolam indukan sama saja dengan pemeliharaan kolam pembesaran.

Saat memlihara indukan ikan koi, pakan yang diberikan berupa pelet berukuran 8 mm, asumsinya nantinya ikan koi yang berumur lebih dari 2 tahun sudah berukuran 60 cm (minimal). Pakan yang diberikan sebanyak 3-5% dari bobot tubuh ikan dalam satu hari. Pakan diberikan 2-4 kali per hari.

 

Pemijahan Ikan Koi

1. Tempat Pemijahan

Kolam pemijahan dapat dibuat dari semen yang permukaannya diplester. Agar sisik ikan koi tidak rusak kalau bergesekan dengan dinding kolam saat proses pemijahan. Ukuran kolam disesuaikan dengan kebutuhan, untuk kolam yang berukuran 3×6 meter menggunakan kedalaman 60 cm dan tinggi air 40 cm.

Pada kolam harus terdapat saluran air masuk dan air keluar. Pada kedua saluran tersebut harus dipasang saringan halus, agar tidak ada hama penyakit yang masuk ke kolam selain itu supaya telur atau larva hasil pemijahan tidak hanyut ke luar kolam.

Sebelum kolam diisi air, kolam harus dijemur dan dikeringkan terlebih dahulu. Setelah kolam dikeringkan lalu semprotkan larutan TON pada seluruh bagian lahan kolam secara merata. Dengan dosis 1 botol TON (250 gr) untuk lahan 2500 m2. Manfaat lain dari pemakain TON yaitu untuk menumbuhkan plankton-plankton sebagai makanan alami untuk ikan koi dan untuk menghilangkan bibit penyakit yang mungkin ada di dalam kolam. Air yang digunakan untuk mengisi kolam sebaiknya diendapkan terlebih dahulu selama 24 jam..

Ikan koi akan menempelkan telurnya pada media yang ada di dalam kolam. Oleh karena itu, sediakan kakaban yang terbuat dari ijuk atau tumbuhan air. Untuk memperkaya kadar oksigen, pasang aerotor pada kolam pemijahan.

2. Proses Pemijahan

Setelah kolam pemijahan siap, masukkan induk ikan koi (betina terlebih dahulu). Pemijahan biasanya berlangsung malam hari, sebaiknya induk betina dimasukkan pada sore hari, tujuannya untuk memberikan waktu pada induk betina untuk beradaptasi dengan kondisi kolam agar tidak stres.

Setelah 2-3 jam, induk jantan dimasukkan ke dalam kolam pemijahan. Jumlah induk jantan yang dimasukkan adalah 3-5 ekor. Hal tersebut bertujuan untuk menghindari kegagalan saat proses pemijahan dan supaya semua telur yang dikeluarkan induk betina bisa terbuahi. Jika menggunakan satu jantan dengan ukuran yang cukup besar, resiko kegagalannya lebih tinggi.

Pemijahan biasanya berlangsung sekitar pukul 11 malam sampai dini hari sebelum matahari terbit. Selama kurun waktu tersebut akan terjadi aksi kejar-kejaran, dimana induk betina akan menyemprotkan telurnya pada kakaban. Setelah telur menempel pada kakaban indukan jantan akan menyemprotkan spermanya untuk membuahi telur tersebut.

Setelah proses pemijahan selesai pada pagi hari, segera angkat indukan-indukan tersebut dari kolam pemijahan. Karena jika induk dibiarkan di kolam, indukan tersebut akan memakan telur-telur ikan. Biarkan telur-telur yang ada di kolam untuk menetas.

3. Penetasan larva

Telur-telur yang telah menempel pada tanaman air atau kakaban harus terendam dalam air. Jika kakaban mengapung, berikan pemberat supaya kakaban terendam air. Di keadaan normal, suhu sekitar 27-30ºC, telur akan menetas dalam waktu 48 jam. Jika suhu air terlalu dingin, telur akan menetas lebih lama. Apabila terlalu panas telur bisa membusuk.

Setelah telur menetas, tanaman air dan kakaban bisa diangkat. Larva yang baru menetas belum membutuhkan makanan, karena masih menyimpan persedian makanan yang bisa bertahan hingga 3-5 hari. Bila persediaan makanan sudah habis burayak (anakan) ikan koi mulai membutuhkan pakan.

Pakan yang diberikan ke burayak saat umur 5 hari adalah kuning telur yang telah direbus. Kuning telur dihancurkan dan dicampur dengan air. Pemberian pakan jangan sampai berlebihan karena dapat mengotori air kolam. Apabila ada sisa pakan pada kolam segera dibersihkan, agar tidak menyebabkan penyakit yang menyerang ikan koi.

Tetapi beberapa penangkar ikan tidak menganjurkan pakan kuning telur karena mudah membuat kolam kotor dan menyebabkan kematian massal. Sebenarnya yang paling diinginkan burayak adalah pakan hidup. Seperti kutu air (daphniadanmoina) yang telah disaring. Penyaringan kutu dilakukan hingga burayak berukuran 1 cm.

Bila anakan ikan sudah lebih besar dapat diberikan kutu air yang tidak disaring atau udang artemia. Cacing sutera bisa diberikan bila ukuran burayak telah mencapai 1,5 cm. Pemberian pakan tersebut berlangsung sampai anakan ikan koi berumur 3 minggu. Setelah 3 minggu, ikan dapat dipindahkan ke kolam pendederan.

4. Pendederan

Kolam pendederan merupakan kolam untuk memelihara ikan koi hingga berumur 3 bulan. Pada umur 3 bulan dengan pertumbuhan normal, biasanya ukuran ikan koi telah mencapai 15 cm. Ukuran kolam 3×4 m dengan kedalaman 40 cm dapat diisi 250-300 ekor anak ikan koi.

Pada tahap ini, pelet bisa diberikan sebagai pakan ikan. Berikan pelet yang berukuran kecil (250 mikron). Satu ons pelet cukup untuk 1.000 ekor ikan koi. Pakan diberikan 2 kali sehari. Untuk membentuk warna badan koi berikan sesekali cacing sutera atau udang artemia.

Setelah anak ikan berumur 3 bulan, berikan pelet kasar sesuai takaran. Pemberian pelet tidak dibatasi, berikan pelet sampai ikan terlihat kenyang. jika dalam tempo 5 menit pakan tidak dimakan dan tersisa di kolam artinya ikan sudah kenyang. Pelet kasar diberikan 2-3 kali sehari.

 

Penyortiran ikan koi

Bertujuan untuk menentukan tingkat harga. Ikan koi yang berkualitas akan dihargai lebih tinggi. Penyortiran saat budidaya ikan koi sudah bisa dilakukan sejak ikan koi berumur 1 bulan. Pada umur 1 bulan, ikan sudah cukup kuat untuk dipindah-pindahkan. Jika ingin lebih aman (meminimalisir tingkat kematian), lakukan setelah ikan berumur 3 bulan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi penyortiran adalah ukuran badan, bentuk dan kualitas warna. Ikan koi yang berukuran kecil digolongkan dengan yang kecil dan ukuran besar digolongkan dengan yang besar. Bentuk badan dipilah dari bentuk yang kurang bagus. Bentuk badan yang bagus harus proporsional, cirinya adalah badannya membulat seperti peluru dan tidak terlalu panjang, siripnya simetris, gerakannya tenang tapi mantap.

Pemilahan juga dilakuan pada ikan yang berwarna cerah dan mempunyai garis batas yang tegas. Ikan koi yang baik mempunyai batas warna yang kontras. Tidak terdapat gradasi warna pada batas-batasnya. Untuk seleksi ke tahap lebih lanjut terdapat Standar Internasional kualitas ikan koi berdasarkan jenisnya.

Butuh Bantuan? Jangan Sungkan!

Jika Anda Butuh Bantuan, Ataupun Hal -Hal Yang Ingin Ditanyakan, Jangan Ragu Untuk Menghubungi Kami, Dengan Senang Hati Akan Kami Bantu

----------------------------------------------------

TELP/SMS/WA

Tulis Komentar