0 di keranjang

Tidak ada produk di keranjang.

Produk Organik Alami Natural Nusantara

Budidaya Belut Teknologi NASA

Budidaya Belut – Kebutuhan terhadap belut terlihat semakin bertambah seiring dengan terus meningkatnya peminat belut. Jika diterapkan dalam segi bisnis, kondisi ini menjadi sebuah peluang besar karena banyak permintaan belut tetapi produksi belum dapat mencukupinya. Hal ini tentu bisa dimanfaatkan dengan membuat usaha budidaya belut.

Meskipun belut termasuk ke dalam kategori ikan, tetapi belut berbeda dengan jenis ikan pada umumnya. Karena belut hanya dapat hidup di lingkungan yang tidak terlalu banyak mengandung air seperti lumpur. Belut banyak ditemukan di daerah rawa dan persawahan. Tetapi saat ini, belut agak susah ditemukan di sawah karena kondisi area sawah yang mulai tercemar oleh bahan kimia seperti pemakaian pupuk kimia yang berlebihan.

 

Cara Ternak Belut

  1. Siapkan Kolam Untuk Budidaya Belut

Belut dapat diternak dengan drum, kolam terpal, tong atau kontainer plastik.

Berikut langkah-langkah memanfaatkan drum sebagai tempat budidaya :

  • Cuci drum hingga benar-benar bersih terutama pada bagian dalam drum
  • Buat lubang persegi panjang pada bagian atas drum
  • Letakkan drum pada bagian tanah yang datar dan diberi pengganjal agar drum tidak terguling
  • Lalu buat saluran pembuangan di bawah drum
  • Buat sebuah peneduh di atas drum supaya belut tidak kepanasan karena terkena sinar matahari langsung
  1. Media Tumbuh Belut

Kunci kesuksesan dalam budidaya belut adalah penggunaan media tumbuh belut yang tepat. Selain faktor pakan, dengan mengguanakan komposisi media tumbuh yang tepat akan dapat mempercepat pertumbuhan belut.

Langkah-langkah membuat media tumbuh belut pada kolam drum :

  • Lapisan pertama paling bawah diisi dengan jerami padi setinggi 40 cm
  • Di atas jerami taburkan SUPERNASA 500 gr secara merata ataupunTON500 gr yang di campurkan dengan urea 5 kg dan NPK 5 Kg. Komposisi ini berlaku untuk kolam ukuran 500 x 500 cm. Untuk kolam lebih besar atau lebih kecil, perbandingan pupuk tersebut dapat disesuaikan.
  • Lapisan kedua diisi tanah atau lumpur setinggi 5 cm.
  • Untuk lapisan ketiga diisi pupuk kandang setinggi 5 cm .
  • Lapisan keempat diisi pupuk kompos setinggi 5 cm dan siram denganPOC NASA.
  • Lumpur kelima diisi cincangan batang pisang setinggi 10 cm.
  • Lapisan keenam diisi tanah / lumpur setinggi 15 cm.
  • Lapisan ketujuh diisi air setinggi 10 cm.
  • Diatas air ditanami enceng gondok secara merata hingga menutupi ¾ permukaan kolam.

Setelah semua media terisi dalam kolam, diamkan media tersebut selama 2 (dua) minggu agar seluruh media mengalami proses fermentasi terlebih dahulu. Setelah 2 (dua) minggu baru kemudian bibit belut dapat dimasukkan ke kolam.

  1. Pemilihan Bibit Belut

Setelah 14 hari, bibit belut baru mulai dimasukkan. Pilih bibit belut yang bagus dan sehat agar meminimalisir tingkat kematian belut. Kriteria bibit belut yang sehat yaitu :

  • Pilih bibit belut dengan ukuran seragam, agar saat panen ukuran belut yang dihasilkan juga seragam atau sama besar. Selain itu hal ini bertujuan agar belut tidak saling memangsa belut lain yang ada di kolam.
  • Belut tidak loyo, lincah dan aktif
  • Bibit belut harus bebas dari penyakit
  • Bibit belut berukuran sekitar 10-12 cm
  1. Pemberian Pakan

Pakan alami belut adalah berbagai jenis binatang kecil yang hidup atau terjatuh dalam air, seperti serangga, siput, cacing, kecebong dan anak ikan. Jadi belut termasuk golongan karnivora yaitu hewan pemakan binatang lain.

Belut yang masih kecil memakan zooplankton yang halus seperti protozoa (hewan bersel satu ), mikrokrusasea (udang-udangan renik), invertebrate mikroskopik (hewan-hewan tak bertulang belakang yang kecil-kecil). Belut yang mulai dewasa memakan larva-larva serangga, cacing siput, berudu kodok, dan benih-benih ikan yang masih lemah.

Bisa juga ditambahkan dengan pakan buatan yang berupa pelet. Pakan buatan bisa diberikan sekali sehari setiap pagi hari atau sore hari. Untuk meningkatkan efektivitas pakan dalam budidaya belut, tambahkan Viterna,POC Nasa,Hormonik ke dalam pakan buatan.

  1. Hama, Penyakit dan Cara Menanggulanginya

Umumnya belut terserang penyakit yang disebabkan oleh organisme seperti virus, bakteri, protozoa, jamur. Bakteri yang sering menyerang belut adalah Aeromonas dan Pseudomonas.

Belut yang terserang bakteri tersebut gejalanya adalah pendarahan hebat di bagian bawah kulit, insang dan rongga mulut dan akan menjalar ke seluruh bagian tubuh.

Cara pengendaliannya yaitu dengan gedebog pisang yang telah busuk dimasukkan ke dalam tempat ternak belut. Gedebog pisang berfungsi sebagai antiseptic alami yang dapat meredam pertumbuhan kedua bakteri penyebab penyakit pada belut. Selain itu, gedebog pisang yang telah busuk juga dapat menimbulkan cacing-cacing kecil yang akan menjadi pakan alami belut.

  1. Panen Belut

Untuk satu drum, idealnya bibit belut yang dapat masuk sebanyak 2 kg dengan ukuran bibit 11-13 cm. Waktu panen belut dilaksanakan setelah 3-4 bulan. Harga bibit belut dengan panjang 7-12 cm sekitar 55.000/kg dengan isi sekitar 76-111 ekor. Sedangkan jika membeli belut konsumsi kisaran harga 32.000/kg dengan isi 4-6 ekor.

 

Pemasaran Belut

  1. Pemasaran Belut

Belut menjadi salah satu makanan konsumsi yang banyak disukai masyarakat, baik diolah menjadi makanan ringan atau langsung dimasak. Permintaan pasar yang besar membuat penyedia belut sering kekurangan stok. Padahal di Indonesia banyak tempat-tempat untuk pembudidayaan belut.

Belut dipasarkan dengan cara dijual langsung ke tengkulak dalam jumlah besar atau dengan cara mencari pelanggan-pelanggan kecil di pasar.

  1. Kandungan Gizi Belut

Daging belut mengandung protein yang tinggi sehingga baik untuk masa pertumbuhan anak. Lebih dari itu, belut juga mengandung vitamin, mineral, kalsium, karbohidrat, fosfor dan lemak sama halnya seperti ikan.

Kandungan gizi belut dari direktorat gizi (Departemen Kesehatan) :

Zat Gizi

Belutl

Kalori

303 cal
Lemak

27 gram

Protein

14 gram

Fosfor

200 mg
Karbohidrat

0

Zat besi

20 mg

Kalsium

20 mg

Vitamin A

1.600 SI

Vitamin B

0,1 mg

Vitamin C

2 mg

Air

58 gram

Di Indonesia, perkembangan budidaya belut belum banyak dilakukan meskipun permintaan ekspor dan domestik semakin besar.hal tersebut dikarenakan sulitnya mendapatkan benih yang berkualitas. Ditambah dengan teknik budidaya yang belum dikuasai yang menyebabkan hasil panen masih belum memuaskan.

Berbeda dengan Cina, dalam hitungan satu tahun Cina telah berhasil memproduksi belut sebanyak 137.486 ton per tahun. Indonesia masih mengandalkan hasil tangkapan alam yang jumlahnya belum stabil.

Butuh Bantuan? Jangan Sungkan!

Jika Anda Butuh Bantuan, Ataupun Hal -Hal Yang Ingin Ditanyakan, Jangan Ragu Untuk Menghubungi Kami, Dengan Senang Hati Akan Kami Bantu

----------------------------------------------------

TELP/SMS/WA

Tulis Komentar